MENJAGA KESEHATAN TUBUH

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (KARHUTLA) TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT DI SUMATERA SELATAN

Rabu, 16 September 2026

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Asap yang dihasilkan dari kebakaran mengandung berbagai polutan, salah satunya partikulat halus PM2,5 yang berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru.

Paparan asap dalam jumlah tinggi maupun dalam waktu yang cukup lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian, khususnya ketika kualitas udara mulai memburuk akibat kabut asap.

Asap Karhutla Dapat Mengganggu Kesehatan Pernapasan

Menurut dr. Fitriyah, Sp.P, paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai keluhan pada saluran pernapasan, mulai dari batuk, pilek, iritasi tenggorokan, hingga sesak napas dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pada orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), paparan asap dapat memperburuk kondisi dan memicu kekambuhan.

Selain saluran pernapasan, paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit, sakit kepala, serta rasa tidak nyaman. Karena itu, ketika terjadi karhutla, masyarakat tidak hanya perlu memperhatikan kondisi lingkungan, tetapi juga perlu meningkatkan perlindungan terhadap kesehatan.

Sumatera Selatan Menghadapi Ancaman Karhutla

Sumatera Selatan termasuk salah satu provinsi yang mendapat perhatian khusus pemerintah dalam penanganan karhutla tahun 2026. Salah satu wilayah dengan kualitas udara sangat buruk adalah Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Pada 27 Agustus 2026 pukul 16.26 WIB, nilai ISPU tercatat 255 dan berada dalam kategori sangat tidak sehat, dengan PM2,5 sebagai parameter kritis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa memburuknya kualitas udara dapat berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat apabila berlangsung cukup lama.

Siapa yang Paling Rentan?

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama terhadap paparan asap karhutla.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma, penderita PPOK, penderita penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya, serta 

masyarakat yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan. 

Anak-anak termasuk kelompok rentan karena sistem pernapasannya masih berkembang. Sementara itu, lansia dan penderita penyakit kronis berisiko mengalami perburukan kondisi kesehatan apabila terpapar polusi udara.  

dr. Fitriyah, Sp.P mengingatkan bahwa masyarakat, terutama kelompok rentan, perlu lebih waspada ketika kualitas udara memburuk. Mengurangi paparan asap merupakan salah satu langkah penting untuk membantu mencegah gangguan pernapasan dan memperburuk penyakit yang sudah ada.

ISPA dan Karhutla, Apakah Selalu Berhubungan?

ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu diperhatikan ketika kualitas udara menurun. Data Kementerian Kesehatan mencatat 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026 dan secara kumulatif 13.449 kasus dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak. 

Namun, peningkatan kasus ISPA tidak dapat seluruhnya dianggap sebagai akibat karhutla. ISPA memiliki berbagai faktor penyebab sehingga hubungannya dengan karhutla perlu dilihat berdasarkan waktu, lokasi, kualitas udara dan data epidemiologis lainnya. 

Bagaimana Melindungi Diri dari Asap Karhutla?

Ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk, masyarakat dianjurkan untuk:

1. Mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi polutan tinggi. 

2. Memantau kualitas udara melalui sumber informasi resmi. 

3. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, menggunakan masker respirator yang sesuai, seperti N95. 

4. Mengurangi masuknya asap ke dalam rumah. 

5. Menggunakan penyaring udara apabila tersedia. 

6. Memberikan perhatian lebih kepada anak-anak, lansia, ibu hamil dan penderita penyakit kronis. 

7. Segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada atau gangguan pernapasan lainnya. 

Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?

Masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan gangguan pernapasan yang muncul atau semakin berat selama kondisi kabut asap.

Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak napas, batuk yang memburuk, nyeri dada atau keluhan pernapasan lainnya, terutama pada anak-anak, lansia dan penderita penyakit paru maupun penyakit kronis. 

Peran Rumah Sakit dalam Menghadapi Dampak Karhutla

Dampak karhutla juga perlu diantisipasi oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Rumah sakit dan puskesmas perlu memantau tren gangguan pernapasan, memastikan ketersediaan obat dan oksigen, menyiapkan tenaga kesehatan serta memperkuat sistem rujukan. 

Rumah sakit juga memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga, memberikan perhatian kepada kelompok rentan serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, BPBD, puskesmas dan instansi terkait. 

Dengan demikian, rumah sakit tidak hanya berperan sebagai tempat pengobatan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan kesehatan masyarakat dalam menghadapi dampak karhutla.

Mari Lindungi Kesehatan dari Dampak Asap Karhutla

Karhutla dapat memberikan dampak nyata terhadap kesehatan, terutama melalui paparan asap dan PM2,5. Gangguan yang dapat muncul antara lain batuk, iritasi tenggorokan, ISPA, sesak napas dan memburuknya penyakit seperti asma dan PPOK. 

Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Mengurangi paparan asap, menggunakan perlindungan pernapasan yang tepat, memantau kualitas udara dan segera mencari pertolongan apabila muncul gangguan pernapasan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Upaya menghadapi karhutla juga membutuhkan kerja sama antara pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, masyarakat dan berbagai sektor terkait. Kesiapsiagaan sebaiknya dilakukan sebelum masyarakat jatuh sakit atau kualitas udara mencapai kondisi yang membahayakan.

Sumber

Direview oleh : dr. Fitriyah, Sp.P

Referensi :

• Kementerian Kesehatan RI. “Kemenkes Siap Siaga Hadapi Dampak Karhutla, 848 Tenaga Kesehatan Dimobilisasi,” 29 Agustus 2026.

• Kementerian Kesehatan RI. “Kemenkes Perkuat Perlindungan Kelompok Rentan Hadapi Karhutla,” 26 Agustus 2026.

• Kementerian Kesehatan RI. “Antisipasi Dampak Karhutla, Kemenkes Kerahkan Nakes dan Logistik ke 7 Provinsi,” 21 Agustus 2026.

• BKPK Kementerian Kesehatan RI. “KARHUTLA DI INDONESIA: SAAT ASAP DATANG, KITA SIAP,” 6 September 2026.

• Kementerian Kesehatan RI. “Menkes: Pakai Masker dan Pantau Kualitas Udara untuk Cegah Dampak Asap Karhutla,” 21 Agustus 2026.

Instalasi PKRS

“Edukasi Untuk Kesembuhan, Pelayanan Untuk Kepuasan”

Beri Rating Artikel Ini

5.0 / 5
1 penilaian
Beri Penilaian
Klik bintang di bawah untuk memberi rating Anda.

Komentar 0

Komentar akan ditampilkan setelah dimoderasi oleh admin.
0/1000
Daftar Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!